KEKUASAAN KEHAKIMAN


1.   PENGERTIAN

 

Penegakan hukum di Indonesia salah satunya dilakukan melalui penyelesaian

sengketa  di  Pengadilan.        Terdapat  perbedaan  pengertian  antara  Peradilan  dengan

Pengadilan.       Peradilan  adalah  menjalankan  tugas  dan  fungsi  penegakan  hukum.

Peradilan  menunjuk  pada  badan  penyelenggaraan  kekuasaan  kehakiman  yang  dibagi

dalam 4 lingkungan peradilan yaitu:

–      Peradilan Umum;

–      Peradilan Agama;

–      Peradilan Militer ; dan

–      Peradilan Tata Usaha Negara.

Sedangkan  pengertian  pengadilan  adalah  berkaitan  dengan  organ  atau  badan  yang

menjalankan  tugas  dan  fungsi  peradilan.  Pengadilan  berupa  badan  atau  organ  yang

menyelenggarakan tugas dan fungsi peradulan yang ada terdiri atas 3 yaitu:

–      Pengadilan Tingkat I;

–      Pengadilan Tingkat II atau Pengadilan Banding; dan

–      Pengadilan Kasasi.

Masing-masing peradilan yang ada dalam ke-empat lingkungan tersebut terdiri atas 3

(tiga) pengadilan.

Amandemen  atas  UUD  1945  khususnya  pasal  24  yang  menyebut  tentang

kekuasaan  kehakiman  dilakukan  oleh  sebuah  Mahkamah  Agung  dan  Mahkamah

Konstitusi.       Amandemen  ini  menjadi  dasar  diubahnya  UU  No.  35  Tahun  1999.

Penegakan  hukum  tersebut  dilaksanakan  oleh  suatu  kekuasaan  yang  disebut  dengan

Kekuasaan  Kehakiman  sebagaimana  diatur  dalam  UU  No.  4  Tahun  2004  tentang

Kehakiman.  Ketentuan tentang Kekuasaan Kehakiman diatur pertama kali dengan UU

No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang

kemudian dengan adanya tuntutan reformasi hukum diubah dengan UU No. 35 Tahun

1999.  Perubahan mendasar yang terjadi dilakukan untuk memperkuat prinsip kekuasaan

kehakiman  merupakan  kekuasaan  yang  merdeka.   Hal  dilakukan  dengan  meletakkan

bahwa  segala  umengenai  peradilan  baik  yang  menyangkut  teknis  yudisial  maupun

urusan  organisasi,  administrasi  dan  finansial  berada  dibawah  satu  kekuasaan  yaitu

Mahkamah Agung.  UU No. 14 Tahun 1970 membagi kekuasaan kehakiman dalam dua

hal, yaitu teknis peradilan ada dalam kekuasaan Mahkamah Agung, namun organisasi

dan finansial berada dibawah Departemen Kehakiman.   Hal ini dianggap menjadikan

kekuasaan  kehakiman  kita  tidak  mandiri  dan  bebas  dari  campur  tangan  dari  pihak

manapun termasuk eksekutif.

UU  No.  35  Tahun  1999  menentukan  pula  bahwa  perubahan  kekuasaan

kehakiman tersebut paling lambat harus telah diselesaikan  dalam waktu 5 (lima) tahun

setelah diundangkan.  Namun karena terjadi perubahan dengan diamandemennya UUD

1945, maka diundangkanlah UU No. 4 Tahun 2004   yaitu mengenai adanya Komisi

Yudisial  yang  bersifat  mandiri  yang  berwenang  mengusulkan  pengangkatan  hakim

agung  dan  mempunyai  kewenangan  lain  dalam  rangka  menjaga  dan  menegakkan

kehormatan, keluhuran martabat dan perilaku hakim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: